Dilema Ketika Bisnis Mulai Bertumbuh
Bagi banyak pemilik bisnis dan founder, fase scale up adalah impian sekaligus tantangan besar. Di satu sisi, ada antusiasme luar biasa untuk tumbuh lebih besar, menjangkau pasar lebih luas, dan menggandakan dampak. Tapi di sisi lain, ada kekhawatiran yang sulit diabaikan: “Apa budaya perusahaan kami akan tetap hidup setelah ini?”
Ini bukan ketakutan yang mengada-ada. Banyak perusahaan yang kehilangan jati dirinya saat mulai menambah tim, membuka cabang, atau menerima pendanaan besar. Nilai-nilai yang dulu hidup dan terasa hangat perlahan tergantikan oleh prosedur, sistem, dan target.
Padahal, justru budaya perusahaan itulah yang jadi alasan kenapa orang bertahan, kenapa klien percaya, dan kenapa bisnis bisa berbeda dari kompetitor. Maka, pertanyaannya bukan lagi “Bagaimana kita scale up?”, tapi “Bagaimana kita scale up tanpa kehilangan budaya?”
Budaya Bukan Sekadar Poster di Dinding
Sebelum bicara strategi, mari kita luruskan satu hal penting: budaya perusahaan bukan soal seberapa sering kita outing bareng atau seberapa keren kata-kata di ruang meeting. Budaya adalah bagaimana orang mengambil keputusan saat bos nggak ada, bagaimana tim memperlakukan satu sama lain, dan bagaimana nilai-nilai dijalankan secara nyata, bukan hanya dibicarakan.
Artinya, menjaga budaya perusahaan saat scale up bukan cuma soal membuat program “penyegaran nilai”. Itu tentang memastikan nilai-nilai tersebut bisa menular ke orang-orang baru, mengakar di dalam sistem, dan terlihat dalam tindakan sehari-hari.
Oke, mari kita bahas apa saja 5 strategi scale up bisnis tanpa mengorbankan budaya perusahaan.
Strategi 1: Rekrutmen yang Mengedepankan Nilai, Bukan Hanya Skill
Pertumbuhan biasanya datang bersama gelombang rekrutmen besar-besaran. Dan di sinilah benih perubahan budaya mulai tumbuh. Saat hiring hanya berfokus pada kompetensi teknis, kita bisa saja membangun tim yang pintar tapi tidak selaras.
Solusinya? Buat proses rekrutmen yang menguji nilai, bukan cuma skill.
Misalnya, jika budaya perusahaan Anda menjunjung tinggi kolaborasi, masukkan simulasi kerja tim dalam proses seleksi. Jika integritas adalah hal utama, berikan studi kasus etika kerja dan lihat bagaimana kandidat merespons tekanan.
Dengan begitu, setiap orang yang masuk bukan hanya “hebat”, tapi juga “selaras”.
Strategi 2: Budaya Harus Masuk ke Sistem, Bukan Hanya Kepala Leader
Di banyak bisnis kecil, budaya perusahaan hidup karena pemiliknya aktif menularkan. Tapi saat bisnis tumbuh, pemilik nggak mungkin mengawasi semuanya. Maka budaya harus masuk ke dalam sistem—dari cara onboarding, cara promosi, sampai cara evaluasi kinerja.
Contoh sederhana: jika Anda menjunjung keterbukaan dan feedback dua arah, pastikan sistem appraisal memungkinkan karyawan memberikan feedback ke atasan juga. Jika Anda mendorong inisiatif, buat mekanisme ide bottom-up yang benar-benar didengar.
Sistem adalah cara terbaik melestarikan budaya tanpa bergantung pada satu sosok.
Strategi 3: Cerita dan Simbol yang Terus Dihidupkan
Budaya tumbuh dari cerita. Dari kisah bagaimana tim melewati masa sulit, dari keputusan etis yang dibuat meski mahal, dari momen-momen yang memperkuat identitas bersama. Ketika bisnis scale up, cerita-cerita ini harus tetap hidup.
Ceritakan ulang kepada karyawan baru. Gunakan dalam pelatihan. Jadikan simbol-simbol budaya sebagai bagian dari keseharian, bukan formalitas tahunan.
Misalnya, jika salah satu nilai Anda adalah “keberanian ambil risiko”, teruslah membagikan kisah saat tim berani coba cara baru—terlepas dari hasilnya. Budaya bertahan karena dihidupkan, bukan diarsipkan.
Strategi 4: Bangun Komunitas Internal, Bukan Sekadar Struktur Organisasi
Salah satu efek pertumbuhan adalah munculnya silo atau sekat antar tim. Divisi makin besar, komunikasi makin berjarak, dan tiba-tiba suasana kerja yang dulu hangat jadi dingin dan kaku.
Maka, penting untuk membangun komunitas, bukan cuma organisasi. Caranya? Fasilitasi interaksi lintas fungsi. Bentuk circle-circle kecil yang berdiskusi soal hal di luar pekerjaan. Dorong kebiasaan saling menyapa, saling mengenal, dan saling berbagi.
Semakin manusiawi interaksi di dalam, semakin kuat pula budaya yang terasa.
Strategi 5: Pemimpin Sebagai Role Model Budaya
Yang terakhir, dan mungkin paling krusial: pemimpin di tiap level harus jadi contoh hidup dari budaya yang ingin dijaga. Karena saat bisnis bertumbuh, orang tidak lagi melihat langsung ke founder, tapi ke atasan terdekat mereka.
Pastikan setiap leader paham bahwa menjaga budaya adalah bagian dari kinerja mereka. Berikan pelatihan jika perlu. Tunjukkan bahwa promosi bukan hanya soal target, tapi juga tentang bagaimana mereka mencerminkan nilai-nilai perusahaan.
Pemimpin bukan cuma pengarah jalan, tapi sebagai penjaga api budaya perusahaan.
Bertumbuh Tanpa Kehilangan Arah
Menumbuhkan bisnis sambil menjaga budaya bukan perkara mudah. Tapi itu bukan hal yang mustahil. Dengan strategi yang tepat, Anda bisa scale up bisnis tanpa kehilangan jati diri. Bahkan sebaliknya—pertumbuhan bisa menjadi ajang memperkuat budaya, memperluas dampaknya, dan menjadikan perusahaan Anda tempat yang bukan hanya besar, tapi juga bermakna.
Ingat, budaya bukan hambatan pertumbuhan. Budaya adalah pondasi yang membuat pertumbuhan bisa bertahan.